“Kayak horor begitu suasananya, Sir! Saya lihat kiri-kanan, sepi. Seperti tidak ada murid-murid begitu. Gurunya juga…”
Saya terdiam sejenak mendengar cerita Tevin.
Lolos seleksi Program Kampus Mengajar menjadi pengalaman baru bagi mahasiswa kami. Sebagai dosen, tentu ada rasa bangga ketika melihat mereka diberi kesempatan untuk terjun langsung ke sekolah dan mengambil bagian dalam dunia pendidikan.
Namun, di balik kebanggaan itu, ada pula kekhawatiran.
Sekolah yang akan mereka datangi adalah tempat baru. Lingkungan baru. Guru-guru baru. Anak-anak dengan karakter yang belum mereka kenal.
Saya hanya bisa berharap mereka mampu menjalankan tugas itu dengan baik.
Pengalaman saya berinteraksi dengan mereka selama menjadi mahasiswa membuat saya cukup mengenal karakter dan mental masing-masing. Terlebih lagi, mahasiswa yang berada di bawah bimbingan saya saat itu sebagian besar sudah memasuki semester enam.
Tevin salah satunya.
Ia dikenal sebagai mahasiswa yang santun dan memiliki mental yang kuat. Tidak banyak mengeluh dan cenderung tenang ketika menghadapi persoalan.
Suatu hari saya memintanya berbagi cerita tentang pengalaman selama menjalankan Program Kampus Mengajar.
“Tevin, ada cerita menarik?”
Tevin memicingkan mata. Ia seperti sedang mengorek-ngorek ingatannya, mencoba menemukan satu cerita yang layak dibagikan.
Ia menggeleng.
“Sepertinya tidak ada, Sir.”
Saya kembali bertanya.
“Masa tidak ada?”
Ia berpikir sejenak.
“Eh, ada sih, Sir. Di awal-awal. Waktu pertama kali ke sekolah.”
Saya mulai tertarik.
“Kenapa di awal-awal? Ada apa memangnya, Vin?”
Tevin tersenyum.
Sepertinya ia mulai mengingat kembali potongan-potongan cerita ketika pertama kali datang bersama teman-temannya ke sekolah tersebut.
Kemudian ia berkata,
“Ini, Sir. Sekolahnya horror!”
Saya terkejut sekaligus penasaran.
“Horror? Banyak setan, ya?”
Kami tertawa.
Percakapan kami memang terdengar lucu.
Tetapi setelah Tevin melanjutkan ceritanya, saya baru memahami bahwa “horror” yang ia maksud sama sekali bukan tentang hantu, setan, atau sesuatu yang berbau mistis.
“Horror”-nya adalah kenyataan.
Ketika pertama kali tiba di sekolah, Tevin mengaku merasa prihatin melihat kondisi bangunan yang menurutnya kurang terurus.
Namun yang lebih membuatnya terpukul adalah kondisi para siswa.
Banyak siswa yang ternyata belum mampu membaca. Yang lebih memprihatinkan, sebagian dari mereka sudah berada di kelas-kelas atas.
Mereka sudah cukup lama berada di sekolah, tetapi kemampuan literasi fundamental yang seharusnya mereka miliki masih menjadi persoalan.
Bagi Tevin, pemandangan itu tentu bukan sesuatu yang mudah dilupakan.
Tetapi ia tidak berhenti pada rasa prihatin.
Ia dan rekan-rekannya memilih melakukan sesuatu.
Mereka menjalankan program peningkatan literasi baca-tulis. Secara bergantian, mereka membimbing siswa-siswa yang belum mampu membaca.
Selain itu, mereka membantu para guru menyelesaikan berbagai pekerjaan administrasi sekolah.
Mereka juga membuat taman-taman kecil di depan ruang kelas agar lingkungan sekolah terasa lebih nyaman.
Pandemi memang membuat aktivitas belajar di sekolah belum sepenuhnya berjalan normal.
Namun, keterbatasan itu tidak membuat mereka berhenti.
Justru di tengah keterbatasan itulah mereka belajar untuk mencari cara.
Tetapi perjalanan menjadi mahasiswa Kampus Mengajar tidak selalu berjalan mudah.
Ada cerita yang bahkan sampai sekarang tidak bisa dilupakan Tevin.
Suatu hari ia berangkat ke sekolah mitra dengan mengendarai sepeda motor. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menumpangi “taksi laut”, istilah yang biasa kami gunakan untuk menyebut perahu kecil bermesin Johnson yang menjadi salah satu moda transportasi masyarakat menuju Pulau Dum.
Untuk menghemat biaya, Tevin memilih menunggu hingga perahu tersebut dipenuhi penumpang.
Dengan begitu, ia hanya perlu membayar sekitar lima ribu rupiah untuk sampai ke tujuan.
Tidak lama kemudian, datang rombongan pekerja.
Mereka mengenakan pakaian kerja lengkap dan membawa berbagai barang.
Bagian depan perahu pun mulai penuh.
Barang-barang ditumpuk.
Penumpang duduk berhimpitan.
Perahu yang semula terasa cukup mulai kehilangan ruang.
Sang motoris akhirnya menyalakan mesin.
Perahu perlahan meninggalkan dermaga Kota Sorong menuju Pulau Dum.
Awalnya semua berjalan seperti biasa.
Sampai kemudian, belum setengah perjalanan, perahu mulai miring ke satu sisi.
Beban barang yang dibawa rombongan pekerja membuat keseimbangan perahu terganggu.
Situasi berubah menjadi menegangkan.
Perahu hampir saja tenggelam.
Dalam hitungan detik, perjalanan menuju sekolah yang semula biasa-biasa saja berubah menjadi pengalaman yang mungkin tidak akan pernah dilupakan Tevin.
Untungnya, motoris dari perahu lain yang melihat kejadian tersebut segera datang membantu.
Perahu lain didatangkan.
Para penumpang diselamatkan.
Dan akhirnya mereka berhasil keluar dari situasi tersebut.
Ketika menceritakan kisah itu kepada saya, wajah Tevin tampak serius.
Ada sedikit rasa malu di sana.
Lalu ia berkata,
“Ini belum pernah saya ceritakan ke teman-teman, Sir. Baru Sir yang tahu cerita ini.”
Saya terdiam.
Sebagai DPL, tentu saja saya kaget mendengarnya.
Ada rasa sedih dan khawatir membayangkan mahasiswa saya berada dalam situasi seperti itu.
Saya membayangkan perjalanan mereka.
Pergi ke sekolah.
Menyeberangi laut.
Menghadapi kondisi sekolah yang tidak mudah.
Dan sekarang saya tahu, bahkan perjalanan menuju sekolah pun memiliki risiko yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Tetapi yang paling membuat saya kagum adalah satu hal:
Tevin tidak berhenti.
Setelah kejadian itu, ia tetap melanjutkan perjuangannya.
Ia tetap pergi ke sekolah.
Tetap menjalankan program.
Tetap mendampingi anak-anak.
Seolah-olah pengalaman buruk di atas laut itu tidak cukup kuat untuk mematahkan semangatnya.
Tevin dan teman-temannya adalah mahasiswa Kampus Mengajar Angkatan Pertama.
Angkatan perintis.
Mereka tidak memiliki banyak cerita dari kakak tingkat yang bisa dijadikan pegangan. Mereka harus belajar sambil berjalan.
Mereka datang dengan teori dari kampus, tetapi sekolah memberikan mereka kenyataan.
Mereka datang dengan rencana, tetapi keadaan mengajarkan mereka untuk beradaptasi.
Mereka datang untuk mengajar, tetapi justru menemukan begitu banyak hal yang harus mereka pelajari.
Dan mungkin, di situlah nilai terbesar dari program ini.
Mereka belajar bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung di ruang kelas yang nyaman.
Kadang pendidikan berlangsung di ruang kelas yang sederhana.
Di sekolah yang bangunannya membutuhkan perhatian.
Di tengah keterbatasan fasilitas.
Bahkan dalam perjalanan menyeberangi laut.
Namun, kisah mereka tidak seluruhnya berisi kesulitan.
Ada juga cerita-cerita kecil yang membuat perjalanan itu terasa lebih hangat.
Tevin bercerita bahwa para guru di sekolah sangat menerima kehadiran mereka.
Bahkan, tidak jarang mereka ditraktir makan oleh para guru.
Alasannya sederhana.
Para guru merasa sangat terbantu dengan kehadiran mahasiswa Kampus Mengajar.
Saya tersenyum mendengar cerita itu.
Begitulah perjalanan pengabdian.
Ada saat-saat ketika kita merasa takut.
Ada saat ketika kita merasa sedih.
Ada saat ketika kita hampir menyerah.
Tetapi selalu ada alasan untuk bertahan.
Ada anak-anak yang menunggu untuk dibimbing.
Ada guru yang merasa terbantu.
Ada teman-teman yang berjalan bersama.
Dan ada pengalaman yang kelak akan menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Kini, ketika saya mengingat kembali cerita Tevin tentang “sekolah horror”, saya justru merasa bahwa kata itu memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Sekolah itu memang “horror”.
Bukan karena hantunya.
Bukan karena sesuatu yang gaib.
Tetapi karena kenyataan di dalamnya menuntut kita untuk tidak hanya melihat, melainkan bertindak.
Ketika melihat anak kelas atas yang belum mampu membaca, kita tidak cukup hanya merasa kasihan.
Ketika melihat bangunan sekolah yang kurang terurus, kita tidak cukup hanya mengeluh.
Ketika melihat keterbatasan, kita harus bertanya:
Apa yang bisa saya lakukan?
Dan Tevin bersama teman-temannya memilih untuk menjawab pertanyaan itu dengan tindakan.
Mereka mengajar.
Mereka membantu.
Mereka membersihkan.
Mereka membuat taman.
Mereka mendampingi anak-anak.
Mereka bertahan.
Mungkin hasilnya tidak langsung terlihat.
Mungkin perubahan tidak terjadi dalam sehari.
Tetapi pendidikan memang tidak selalu bekerja seperti itu.
Ada perubahan yang tumbuh perlahan.
Seorang anak yang mulai mengenal huruf.
Seorang siswa yang mulai berani membaca.
Sebuah ruang kelas yang menjadi lebih nyaman.
Seorang guru yang merasa pekerjaannya menjadi sedikit lebih ringan.
Dan seorang mahasiswa yang pulang dari sekolah dengan membawa pengalaman yang tidak akan ia dapatkan hanya dengan duduk di ruang kuliah.
Karena itu, saya tetap optimis.
Saya yakin mahasiswa-mahasiswa kami akan membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar sertifikat atau nilai dari sebuah program.
Mereka akan membawa cerita.
Cerita tentang sekolah.
Tentang anak-anak.
Tentang guru.
Tentang persahabatan.
Tentang perjalanan.
Tentang laut.
Dan tentang keberanian untuk tetap melangkah meskipun perjalanan tidak selalu mudah.
Suatu hari nanti, mungkin Tevin akan lupa detail beberapa tugas yang pernah ia kerjakan di sekolah itu.
Tetapi saya yakin ia tidak akan pernah benar-benar lupa bagaimana rasanya melihat seorang anak yang belum bisa membaca.
Ia tidak akan lupa perjalanan dengan taksi laut.
Ia tidak akan lupa perahu yang hampir tenggelam.
Ia tidak akan lupa guru-guru yang menerimanya dengan baik.
Dan mungkin, yang paling penting, ia tidak akan lupa bahwa pernah ada masa ketika ia menjadi bagian dari angkatan pertama—angkatan perintis—yang mencoba hadir di sebuah sekolah dan membuat sedikit perubahan.
Bagi saya sebagai dosen dan DPL, itulah bagian paling membanggakan dari perjalanan mereka.
Saya mengirim mereka untuk mengajar.
Tetapi sekolah mengajarkan mereka jauh lebih banyak.
Dan mungkin, pada akhirnya, bukan hanya anak-anak sekolah yang belajar dari mereka.
Mereka pun pulang sebagai anak-anak muda yang telah belajar dari kehidupan.