Rani yang Berlari Lebih Jauh dari Sekadar Bermain
Siang itu, saya bertemu Rani.
Ia sedang bermain *gemberi* bersama tiga orang turis asing. Kemampuan bahasa Inggrisnya? Satu, dua, tiga kata. Sederhana saja. Tidak ada yang istimewa jika dilihat sekilas. Rani terlihat seperti anak-anak pada umumnya di kampung wisata.
Tapi siang itu saya melihat sesuatu yang berbeda.
Ketika kami hendak menuju pantai, tempat biasanya turis-turis asing melakukan aktivitas snorkeling, Rani tiba-tiba secara sukarela menjadi pemandu kami.
Tanpa diminta.
Tanpa dibayar.
Dan tanpa kemampuan bahasa Inggris yang memadai.
Dengan caranya sendiri, Rani menunjukkan berbagai hal menarik yang ada di pantai tersebut. Bahkan beberapa hal yang ditunjukkannya membuat saya—yang notabene orang lokal dan sudah cukup sering berada di lingkungan itu—justru terkesima.
Tetapi sebenarnya bukan apa yang ditunjukkan Rani yang membuat saya kagum.
**Melainkan bagaimana ia menjelaskannya.**
Rani masih kelas 6 SD.
Namun ia mampu meyakinkan kami dengan cara yang tidak biasa untuk anak seusianya.
Salah satu contohnya ketika Rani menunjukkan kepada kami bagaimana bahan-bahan yang tersedia di alam dapat digunakan untuk membersihkan *goggle* snorkeling.
Awalnya saya tidak yakin.
Tapi Rani punya cara sendiri untuk meyakinkan kami.
Pertama, ia menjelaskan bahwa cara tersebut **tidak merusak alam**.
Kedua, ia menceritakan **pengalaman yang pernah ia lakukan sebelumnya**.
Ketiga, ia tidak berhenti pada cerita. Ia **membuktikan argumennya dengan menunjukkan kondisi before and after**.
Dan akhirnya saya berpikir:
**“Oh… ternyata anak ini tidak sekadar tahu.”**
Dari kacamata pendidikan, apa yang dilakukan Rani jauh lebih menarik daripada sekadar kemampuan bahasa Inggris.
Rani sedang belajar dari lingkungan.
Ia mengamati.
Ia mencoba.
Ia mengalami.
Ia menemukan solusi.
Ia mengevaluasi apakah solusi tersebut berhasil.
Dan kemudian ia mampu menjelaskan serta meyakinkan orang lain berdasarkan pengalamannya.
Jika kita menggunakan Taksonomi Bloom, saya berani mengatakan bahwa proses belajar Rani sudah bergerak menuju **C5 – Evaluate**.
Ia tidak hanya *remembering* atau mengingat informasi.
Tidak hanya *understanding*.
Tidak hanya *applying*.
Tetapi sudah mulai **mengevaluasi sebuah cara berdasarkan kriteria tertentu**:
> Apakah cara ini aman bagi alam?
> Apakah cara ini pernah berhasil?
> Apakah hasilnya bisa dibuktikan?
Dan yang lebih menarik lagi, pengalaman tersebut terjadi **bukan di dalam kelas**.
Tidak ada papan tulis.
Tidak ada buku teks.
Tidak ada lembar kerja.
Tidak ada guru yang berdiri di depan kelas.
Yang ada hanyalah pantai, pengalaman, rasa ingin tahu, interaksi dengan wisatawan, dan keberanian untuk mencoba.
Di sinilah saya kemudian berpikir:
**Jangan-jangan kita terlalu sering mengukur kemampuan anak hanya dari apa yang mampu mereka jawab di dalam kelas.
Padahal mungkin ada anak-anak seperti Rani yang sedang belajar jauh lebih banyak ketika mereka berada di luar kelas.
Rani mungkin hanya punya satu, dua, tiga kata dalam bahasa Inggris.
Tetapi hari itu ia mengajarkan sesuatu kepada saya:
Bahwa keterbatasan bahasa tidak selalu berarti keterbatasan berpikir.
Dan mungkin, tugas pendidikan bukan hanya membuat anak mampu menjawab soal.
Tetapi memberi mereka ruang untuk **mengamati, mencoba, gagal, memperbaiki, membuktikan, dan meyakinkan orang lain.**
Siang itu Rani bukan hanya berlari menuju pantai.
Ia sedang berlari menuju cara belajar yang lebih bermakna.