“Itu perpustakaan kenapa dibersihkan? Tidak usah kasi bersih, trada anak-anak yang mau membaca. Percuma!”
Dengan raut wajah sedih dan kecewa, Letta, salah seorang mahasiswa peserta Program Kampus Mengajar, bercerita kepada saya, dosen pembimbingnya, tentang tanggapan sinis salah seorang guru di sekolah tempat mereka ditugaskan.
Letta dan rekan-rekannya sebenarnya berniat menghidupkan kembali perpustakaan sekolah yang telah lama tidak digunakan dan tidak terurus. Bahkan, menurut cerita mereka, ruangan yang sejatinya menjadi tempat anak-anak membangun wawasan dan budaya literasi itu sempat digunakan sebagai tempat menyimpan barang-barang sekolah yang sudah tidak terpakai.
Entah bagaimana awalnya, tetapi sebuah ruang yang seharusnya menjadi tempat anak-anak menemukan pengetahuan justru kehilangan fungsinya.
Letta, Renilda, dan Yokbet adalah tiga dari dua puluh dua mahasiswa kami di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Sorong yang berkesempatan lolos seleksi Program Kampus Mengajar Angkatan Pertama. Mereka bertiga merupakan mahasiswa semester enam yang saat itu masih aktif mengikuti perkuliahan di program studi kami.
Mereka ditempatkan di salah satu sekolah mitra yang jaraknya kurang lebih sebelas kilometer dari kampus.
Bersama rekan-rekan mahasiswa dari kampus lainnya, mereka berencana menghidupkan kembali kegiatan literasi di ruang perpustakaan sekolah tersebut. Rencana itu mereka sampaikan kepada kami dalam sebuah sesi berbagi pengalaman.
Mereka berpikir sederhana. Dengan memperindah dan menata kembali ruang perpustakaan, siswa-siswi sekolah dasar itu akan memiliki ruang yang nyaman untuk menambah wawasan. Lebih dari itu, mereka juga ingin membantu anak-anak yang belum mampu membaca dan menulis.
Namun, sayangnya, ada saja orang yang meragukan ide mereka. Bahkan, salah seorang guru menanggapi rencana mahasiswa tersebut dengan nada sinis.
Sebagai DPL, saya hanya bisa mendengarkan keluh kesah mereka dan memberikan sedikit solusi yang saya harap dapat meredakan kekecewaan setelah kejadian yang tidak mengenakkan itu.
“Santai saja. Jangan terlalu dibawa perasaan. Dinamika di sekolah memang begitu. Kadang tidak sesuai dengan harapan idealis kalian. Mungkin guru itu hanya kurang memahami maksud kalian menata perpustakaan. Saya yakin, dari sekian banyak guru yang ada di sekolah itu, hanya satu orang yang bersikap seperti itu. Jadi, tidak usah terlalu kalian pikirkan. Justru kalian harus tetap semangat karena masih banyak guru lain yang mendukung kegiatan kalian menata perpustakaan.”
Sekilas, respons yang saya berikan mungkin bisa membuat mereka sedikit berlapang dada. Namun, saya masih bisa melihat dengan jelas ekspresi kecewa yang tersimpan di wajah Letta.
Saya terus mencoba meyakinkan mereka agar tetap menjalankan program perpustakaan tersebut. Pada akhirnya, mereka pun bersedia melanjutkannya.
Seminggu berlalu.
Dalam pertemuan terakhir kami pada sebuah sesi diskusi, saya sempat berjanji akan datang berkunjung ke sekolah sekaligus bertemu dengan kepala sekolah dan guru pamong mereka. Namun, waktu yang tidak memungkinkan membuat janji itu tertunda hingga dua minggu.
Bukan karena saya tidak serius dengan janji tersebut. Pekan itu menjadi salah satu waktu yang cukup melelahkan karena berbagai agenda kampus, termasuk kegiatan “Welcome Week” yang kami selenggarakan.
Akhirnya, Renilda dengan tegas mengingatkan saya tentang janji kunjungan ke sekolah yang pernah saya sampaikan.
“Sir, bagaimana? Kapan bisa ke sekolah? Guru pamong juga sudah sempat tanyakan.”
Pertanyaan itu disampaikannya tepat setelah mata kuliah berakhir.
Oh iya, meskipun mereka harus mengabdi di sekolah mitra, mereka tetap datang ke kampus untuk mengikuti perkuliahan seperti biasa.
“Oke, baik. Insyaallah besok, ya. Tolong sampaikan ke teman-teman.”
Jawabku sekenanya, berharap tetap bisa menjaga semangatnya.
Setelah Renilda berlalu, pada mata kuliah yang sama, tetapi di waktu yang berbeda, Letta menghampiriku di akhir perkuliahan.
“Sir, saya mau….”
Belum sempat Letta menyelesaikan pertanyaannya, saya langsung memotongnya dengan jawaban yang sama seperti ketika Renilda bertanya.
“Iya, saya tahu. Insyaallah besok, ya. Tolong sampaikan ke teman-teman. Itu kan yang mau kau tanyakan?”
Dengan menunduk sembari tersenyum, Letta mengangguk.
“He-he… hehe, iya, Sir. Baik, Sir.”
Jujur, sebagai DPL, saya mulai merasa bersalah. Saya terlalu lama membuat mereka menunggu.
Setelah berputar-putar dengan berbagai urusan kampus, akhirnya saya mendapatkan kesempatan juga untuk mengunjungi mereka di sekolah.
Sebenarnya, sekolah itu bukan sekolah yang sulit ditemukan. Kami, dosen-dosen PBI, sudah cukup sering melintas di depan sekolah tersebut. Hanya saja, entah kenapa, membayangkan perjalanan menuju ke sana saja sudah membuat kami enggan terlebih dahulu.
Kurang lebih tiga puluh menit perjalanan dengan sepeda motor dari kampus UM Sorong. Pagi menjelang siang, akhirnya saya tiba di halaman sekolah.
Saya sempat berhenti sejenak di depan gerbang. Jalan menuju sekolah sedikit menurun karena posisi sekolah memang berada agak rendah dari jalan utama. Dari sana, saya bisa melihat hamparan rumput hijau di halaman sekolah. Beberapa anak tampak sedang asyik bermain bola.
Baru saja selesai memarkir motor, Yokbet yang sepertinya menyadari kedatangan DPL-nya langsung buru-buru menghampiri saya.
“Selamat pagi, Sir.”
Entah dari mana munculnya, tiba-tiba saja dia sudah berada di belakang saya. Sepertinya ia keluar dari sebuah ruangan yang tidak jauh dari tempat saya berdiri. Pintunya tampak terbuka lebar.
“Iya, Yokbet. Selamat pagi juga. Apa kabar? Mana yang lain?”
Sambil berusaha mengarahkan saya masuk ke ruangan yang tadi sempat saya lihat dengan pintu terbuka lebar, Yokbet menjawab,
“Di sini, Sir. Ayo…”
Sesampainya di depan pintu ruangan yang kami tuju, saya melihat dua baris rak besar yang dipenuhi buku. Lantainya dilapisi karpet merah. Sepertinya bukan karpet baru, tetapi lumayanlah untuk sebuah ruangan yang sedang mereka benahi.
Di atas karpet itu terdapat beberapa meja lesehan. Buku-buku tampak berserakan di atas lantai.
Sepertinya inilah ruangan perpustakaan yang pada awal-awal mereka ceritakan kepada saya.
Perpustakaan yang sedang mereka bersihkan dan tata kembali, tetapi sempat diragukan oleh seorang guru dengan komentar sinisnya.
Dalam hati saya membatin, Syukurlah. Akhirnya perpustakaan ini sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan apa yang mereka ceritakan sebelumnya.
Artinya, ada kemajuan yang berhasil mereka hasilkan.
Namun, tunggu dulu.
Saya tidak boleh puas hanya karena mereka berhasil membersihkan perpustakaan. Saya justru penasaran dengan hal yang lebih penting: apakah ada siswa yang datang ke perpustakaan itu dengan senang hati? Apakah mereka membuka buku-buku yang kini berjejer rapi di rak dan membacanya tanpa paksaan?
Baiklah. Saya harus menanyakannya langsung kepada mereka.
Tapi, tunggu…
Kok saya tidak melihat dua mahasiswa lainnya?
Renilda dan Letta tidak tampak di ruangan itu.
“Loh, si Letta dan Renilda mana?” tanyaku kepada Yokbet.
“Mereka hari ini tidak hadir, Sir. Katanya izin dulu karena ada urusan di rumah,” jawab Yokbet.
“Oh, begitu. Ini kalian sedang ngapain?”
“Lagi menyusun dan mengategorikan buku-buku sesuai dengan jenisnya, Sir, biar mudah dicari. Kami berencana membuat label berdasarkan jenis buku.”
Sepertinya Yokbet benar-benar memahami program yang sedang mereka kerjakan. Ia juga terlihat sangat bersemangat mengerjakan program membersihkan dan menata kembali perpustakaan tersebut.
Namun, masih ada satu pertanyaan yang sejak tadi mengganjal rasa penasaran saya.
“Tapi bagaimana? Ada anak-anak yang masuk perpustakaan tidak?”
“Ada, Sir. Kebetulan sebagian sedang ada di kelas. Mereka belum ke sini karena kami masih menata bukunya. Tapi biasanya mereka sudah pada ingin masuk jam-jam begini.”
Lega rasanya mendengar jawaban Yokbet.
Itu artinya, apa yang mereka lakukan tidak sia-sia sedikit pun.
Siswa-siswi sekolah itu secara langsung mulai merasakan manfaat dari keberadaan mahasiswa Kampus Mengajar di sekolah mereka.
Lebih dari sekadar membersihkan sebuah ruangan, para mahasiswa itu telah mengubah cara sebuah ruang dipandang. Ruangan yang sebelumnya nyaris kehilangan fungsi kini kembali menjadi tempat yang ingin didatangi anak-anak.
Dan bagi saya, itulah bagian terpentingnya.
Saya juga lega mengetahui mereka tetap semangat dan tidak larut dalam kekecewaan akibat komentar yang sebelumnya sempat membuat mereka down.
Selanjutnya, saya meminta Yokbet mengantarkan saya bertemu dengan guru pamong mereka.
Yokbet kemudian mengajak saya ke ruang guru. Di sanalah saya bertemu dengan sosok yang ternyata membuat kunjungan hari itu menjadi semakin menarik.
Guru pamong mereka ternyata adalah alumni PBI yang sudah sekitar empat tahun mengabdi di sekolah tersebut, bahkan sejak sebelum ia menyelesaikan pendidikannya di almamater kebanggaan kami.
Ibu Sugi, begitu ia biasa dipanggil.
Saya, sebagai mantan dosennya, masih mengingat dengan jelas nama lengkap beliau: Sugiyanti Lewerissa.
Ketika masih menjadi mahasiswa, boleh dibilang saya sering iseng kepadanya. Begitu pula sebaliknya. Kebiasaan itu ternyata terbawa hingga pertemuan kami hari itu.
Ia menyambut saya dengan cara yang kurang lebih sama seperti dulu ketika saya sering iseng kepadanya di kampus.
Semuanya berlangsung begitu cair, diselingi gelak tawa khas Ibu Sugi.
Momen pertemuan itu sedikit terganggu ketika tiba-tiba muncul seorang guru yang dengan akrab menyapa saya dan bertanya,
“Pak Dosen, bapaknya nama siapa? Barangkali kita saling kenal. Jangan-jangan Pak Dosen ini anaknya Bapak… bla-bla-bla.”
Entah siapa yang ia maksud. Penjelasannya tidak begitu jelas, dan tentu saja membuat saya bingung sekaligus salah tingkah.
Saya sendiri yakin belum pernah mengenal beliau sebelumnya.
Karena tidak ingin percakapan itu semakin melebar, Ibu Sugi kemudian mengajak saya kembali ke perpustakaan untuk mendiskusikan kegiatan mahasiswa selama mengikuti Program Kampus Mengajar.
Sesampainya di perpustakaan, mahasiswa dan Ibu Sugi kemudian memberitahukan kepada saya tentang guru tadi.
“Itu sudah, Pak. Itu dia guru yang kami ceritakan tempo hari. Dia yang bilang, ‘Perpustakaannya kenapa dibersihkan?’…”
Saya hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Saya berusaha meyakinkan mereka untuk melupakannya saja.
Apa yang sudah mereka lakukan, sejauh pengamatan saya hari itu, sudah sangat bagus.
Perpustakaan itu kembali hidup.
Bahkan, saat kami sedang berbincang, beberapa murid tiba-tiba muncul di depan pintu perpustakaan. Mereka bertanya apakah boleh masuk ke dalam.
Saya tersenyum.
Pertanyaan sederhana itu justru terasa seperti jawaban paling nyata dari seluruh kerja keras mereka.
Percakapan pagi menjelang siang itu antara Ibu Sugi, saya sebagai DPL, dan para mahasiswa berlangsung sangat cair. Kami duduk lesehan di lantai perpustakaan yang baru saja mereka tata.
Banyak kegiatan yang telah mereka lakukan dan dirasakan sangat membantu pihak sekolah.
Bukan hanya soal perpustakaan.
Ibu Sugi bahkan mengaku akan melibatkan mereka dalam kegiatan Lomba Tingkat Gugus yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional.
Mendengar pengakuan tulus dari Ibu Sugi, sebagai DPL saya tentu merasa bangga kepada mahasiswa yang telah bersusah payah merancang dan menjalankan program mereka di sekolah mitra.
Hari itu saya belajar satu hal sederhana.
Sebuah perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang-kadang, perubahan dimulai dari keberanian untuk membersihkan sebuah ruangan yang sudah lama ditinggalkan.
Dari beberapa rak buku.
Dari karpet yang mungkin sudah tidak baru.
Dari meja-meja lesehan.
Dari buku-buku yang kembali disusun berdasarkan jenisnya.
Dan, yang paling penting, dari keyakinan bahwa anak-anak berhak memiliki tempat untuk membaca, belajar, dan bermimpi.
Mungkin bagi sebagian orang, perpustakaan itu hanyalah sebuah ruangan yang tidak terpakai.
Namun bagi Letta, Renilda, Yokbet, dan mahasiswa lainnya, ruangan itu adalah kesempatan untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik.
Dan ketika beberapa anak mulai berdiri di depan pintu dan bertanya, “Boleh kami masuk?”, saya rasa mereka telah mendapatkan jawaban terbaik.
Semoga kisah kecil ini dapat menginspirasi generasi berikutnya dan siapa saja yang masih memiliki kepedulian terhadap pendidikan negeri ini.