“Sir, yang benar saja. Masa aku disuruh mendata nama-nama siswa di kertas, tulis tangan pula. Tidak pakai komputer, padahal ada komputer di situ. Tiga rangkap pula. Masa aku harus menulis berulang-ulang? Heran aku.”
Hari itu, Tua Romulus Manalu—biar lebih gampang, kami biasa memanggilnya Tulus—bercerita panjang lebar kepada saya tentang hari-hari pertamanya di sekolah mitra tempat ia mengabdi.
Tulus adalah salah satu mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang kami kenal sebagai pribadi santun dan pekerja keras. Tetapi pagi itu, ada sesuatu yang berbeda dari cara bicaranya. Dengan logat khasnya, ia bercerita penuh semangat tentang pengalaman yang menurutnya cukup menguras energi sekaligus menguji idealismenya sebagai mahasiswa.
Selama kuliah, Tulus terbiasa mengerjakan tugas dengan bantuan laptop. Hampir semua pekerjaan akademik bisa diselesaikan dengan mengetik, mengedit, menyimpan, lalu mencetak.
Namun di sekolah itu, ia seperti dipaksa mundur beberapa langkah.
Laptop yang biasanya menjadi teman setianya mendadak kehilangan peran.
Ia kembali berhadapan dengan kertas dan pena.
Yang lebih membuatnya heran, di ruangan itu sebenarnya tersedia komputer.
Tetapi komputer itu seolah hanya menjadi benda yang diam, sementara Tulus harus kembali mengandalkan tulisan tangannya.
Dengan gaya bicaranya yang khas—terdengar seperti sedang marah dan ketus, tetapi wajahnya tetap menyimpan senyum—ia terus mengomel.
Saya yang menjadi DPL-nya berusaha menjadi pendengar yang baik.
Tetapi pada akhirnya saya tertawa juga mendengar ocehannya.
“Kok bisa begitu? Kamu kan punya laptop. Tawarkan saja kepada gurunya. Nama-nama siswa itu kamu ketik pakai laptop, lalu dicetak.”
Tulus langsung menyahut,
“Nah, itu dia, Sir. Gurunya juga tidak mau. Katanya ditulis tangan saja.”
Saya terdiam.
“Loh, kok begitu, ya?”
Saya memegang kepala sambil mencoba memahami logika yang bagi saya terasa sedikit aneh.
Tulus pun masih tersenyum, seolah ia sendiri belum menemukan jawaban atas keunikan yang baru saja ditemuinya di sekolah tempat ia mengabdi.
Mungkin bagi saya dan Tulus, menulis daftar nama siswa sebanyak tiga rangkap dengan tangan terasa seperti pekerjaan yang tidak perlu.
Ada komputer.
Ada laptop.
Ada printer.
Tetapi rupanya, tidak semua tempat bekerja dengan cara yang sama.
Di situlah Tulus mulai belajar bahwa mengabdi di sekolah bukan hanya soal membawa pengetahuan dari kampus ke sekolah.
Ia juga harus belajar memahami kebiasaan yang sudah lama tumbuh di tempat itu.
Kadang-kadang, idealisme harus berhadapan dengan kebiasaan.
Kadang-kadang, teknologi harus berhadapan dengan cara lama.
Dan kadang-kadang, mahasiswa hanya bisa menghela napas sambil berkata,
“Heran aku.”
Saya tersenyum mengingat cerita Tulus hari itu.
Barangkali, pengalaman seperti itulah yang tidak pernah tertulis dalam buku-buku kuliah.
Tidak ada mata kuliah yang secara khusus mengajarkan bagaimana rasanya membuat tiga rangkap daftar nama siswa dengan tulisan tangan ketika sebuah komputer tersedia beberapa meter dari tempat kita duduk.
Tetapi justru dari hal-hal sederhana seperti itulah mereka belajar.
Belajar bersabar.
Belajar beradaptasi.
Belajar memahami bahwa sekolah bukan sekadar ruang untuk menerapkan teori, melainkan ruang yang penuh dengan manusia, kebiasaan, keterbatasan, dan cara-cara lama yang kadang tidak bisa begitu saja diubah.
Dan Tulus, dengan laptop yang tetap ia bawa ke sekolah, akhirnya belajar satu hal penting:
Tidak semua perjuangan pendidikan dimulai dari teknologi.
Kadang, ia dimulai dari selembar kertas dan sebatang pena.