“Banyak sekali hadiahnya.”
Saya bertanya sambil melirik paperbag dan beberapa bungkusan yang dibawa Risda hari itu.
Ia tersenyum.
“Iya, Sir. Ini dari siswa-siswa dan guru di sekolah tempat saya Kampus Mengajar.”
Saya memandangi barang-barang itu sekali lagi.
Benda-benda sederhana.
Tetapi saya tahu, di balik setiap pemberian itu ada cerita yang jauh lebih besar daripada sekadar harga atau bentuk sebuah hadiah.
Lima bulan sebelumnya, tidak ada yang menyangka bahwa tiga mahasiswa yang sama sekali belum saling mengenal akan dipertemukan dalam sebuah perjalanan yang akhirnya meninggalkan begitu banyak kenangan.
Tanggal 14 Juli 2022 menjadi salah satu hari yang tidak akan saya lupakan. Hari itu pengumuman peserta Program Kampus Mengajar dipublikasikan.
Saya dan lima orang teman lainnya dinyatakan lolos untuk mengikuti program tersebut selama enam bulan.
Sebagai mahasiswa, tentu ada rasa bangga.
Namun setelah rasa bangga itu, muncul pula pertanyaan:
Saya akan ditempatkan di mana? Dengan siapa saya akan bekerja? Bisakah saya bekerja sama dengan orang-orang yang belum saya kenal?
Saya kemudian membuka laman Program Kampus Mengajar dan melihat penempatan saya.
SD Inpres 65 Klademak.
Saya ditugaskan bersama dua mahasiswa yang sama sekali belum saya kenal. Mereka berasal dari program studi dan perguruan tinggi yang berbeda.
Mereka adalah Filzah Salsabilah Maharani, mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Sorong, dan Muhammad Fikrul Janu Jatmiko, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.
Jujur, saat itu saya sempat ragu.
Bahkan sempat terpikir untuk mengundurkan diri.
Bagaimana kalau kami tidak cocok?
Bagaimana kalau kami berbeda cara berpikir?
Bagaimana kalau kami tidak bisa bekerja sebagai sebuah tim?
Malam itu, Filzah menghubungi saya melalui WhatsApp.
Kami berkenalan dan kemudian sepakat untuk bertemu dengan Dosen Pembimbing Lapangan. Kebetulan, beliau adalah dekan di fakultas saya.
Saat itu saya dan Filzah masih penasaran dengan satu anggota tim lainnya, Fikrul.
Ia mahasiswa dari Semarang.
Mahasiswa dari luar Papua.
Dan kami belum pernah bertemu dengannya.
Beberapa hari kemudian, Fikrul mengirim pesan.
Ia memberi tahu bahwa dirinya sudah berada di Sorong.
Saya dan Filzah cukup terkejut.
Serius?
Seorang mahasiswa dari Semarang datang jauh-jauh ke Papua hanya untuk menjalankan tugas Program Kampus Mengajar.
Padahal ia bisa saja menolak atau memilih lokasi penempatan yang lebih dekat dengan kampusnya.
Hari pertemuan dengan Dosen Pembimbing Lapangan akhirnya tiba.
Untuk pertama kalinya, kami bertiga bertemu secara langsung.
Awalnya tentu saja terasa canggung.
Tiga orang yang sebelumnya tidak saling mengenal tiba-tiba harus menjadi sebuah tim dan bekerja bersama selama berbulan-bulan.
Setelah berdiskusi dengan DPL, kami memutuskan untuk duduk bersama di sebuah kantin.
Kami ingin saling mengenal.
Kami ingin tahu siapa sebenarnya orang-orang yang akan menjadi teman seperjuangan kami.
Karena penasaran, saya dan Filzah mulai bertanya kepada Fikrul.
“Fikrul, kenapa kau pilih mengajar di Sorong? Kenapa tidak di Jawa saja? Kan ribet kalau harus bolak-balik Sorong-Semarang. Terus kuliahmu semester ini bagaimana? Kalian Zoom saja?”
Pertanyaan kami mungkin terdengar seperti sedang menginterogasinya.
Tetapi Fikrul justru menjawab dengan santai.
“Jadi, pada saat mendaftar Program Kampus Mengajar, saya memilih Kota Sorong karena kedua orang tua saya sudah lama berdomisili di Sorong. Saya juga dulu SD di sini. Tetapi waktu SMP saya pindah ke Jawa dan melanjutkan sekolah di sana.”
Ia berhenti sebentar.
Kemudian melanjutkan,
“Setelah tinggal lama dan kuliah di Semarang, ternyata saya agak rindu juga dengan Sorong. Saya melihat ada kesempatan bagus untuk bisa kembali ke Sorong, yaitu dengan mendaftar Kampus Mengajar dan memilih Kota Sorong sebagai tempat melaksanakan tugas.”
Kami mendengarkan.
Ternyata kepulangannya bukan semata-mata karena tugas.
Ada kerinduan di baliknya.
Sorong adalah bagian dari masa kecilnya.
Dan Program Kampus Mengajar memberinya alasan untuk kembali.
Kemudian kami bertanya lagi mengenai perkuliahannya.
Fikrul tertawa.
“Kalau soal perkuliahan, kebijakan dari kampus saya, semester ini bisa dikonversi nilainya. Jadi bisa dibilang liburanlah, walaupun setiap hari juga mengajar.”
Kami spontan tertawa.
“Hooo begituuu… enak eee. Tidak ada mata kuliah.”
Kami kemudian menjelaskan bahwa kami masih harus mengikuti perkuliahan seperti biasa. Kebetulan sebagian besar mata kuliah kami berlangsung siang hari, sehingga pagi harinya kami masih bisa pergi ke sekolah.
Hari itu kami mulai memahami satu sama lain.
Ternyata perbedaan tidak selalu menjadi penghalang.
Kadang-kadang, perbedaan justru menjadi awal dari sebuah pertemanan.
Tidak lama kemudian, kami menerima informasi bahwa seluruh mahasiswa yang lolos Program Kampus Mengajar wajib datang ke Dinas Pendidikan untuk mendapatkan surat izin yang nantinya dibawa ke sekolah masing-masing.
Setelah urusan di Dinas Pendidikan selesai, kami bersama DPL berangkat menuju sekolah.
Ada satu hal lucu yang terjadi ketika kami pertama kali tiba di sana.
Kepala sekolah salah memahami kedatangan kami.
Beliau mengira kami adalah mahasiswa yang diutus untuk melaksanakan PLP (Pengenalan Lingkungan Persekolahan), sebuah kegiatan wajib dari fakultas.
Meski demikian, beliau menerima kami dengan sangat baik.
Beliau bahkan menyampaikan kepada DPL bahwa akan membimbing kami sebaik mungkin dan mendukung program-program yang akan kami laksanakan.
Kami pun pulang dengan perasaan lega.
Namun di perjalanan, DPL mengingatkan kami:
“Itu Bapak Kepseknya masih belum tahu tentang Program Kampus Mengajar. Tugas kalian bertiga adalah memberikan penjelasan dengan cara baik-baik kepada Kepsek dan semua guru di sana. Beri tahu mereka kalau kalian datang bukan untuk PPL, tetapi kalian datang dengan tugas yang diberikan oleh Mas Nadiem melalui program ini.”
Kami bertiga menjawab hampir bersamaan,
“Baik, Miss.”
Saat itu kami tahu bahwa tugas pertama kami bukanlah mengajar.
Tugas pertama kami adalah membuat sekolah memahami mengapa kami hadir di sana.
Bulan pertama ternyata menyimpan cerita yang cukup menegangkan.
Pagi itu kami bertiga sedang duduk di ruang guru. Semua guru sedang mengajar di kelas. Kami sibuk membicarakan program kerja yang akan kami laksanakan.
Tiba-tiba Bapak Kepala Sekolah melihat kami.
“Ade bertiga belum masuk mengajar di kelas?”
Kami belum sempat menjawab ketika beliau melanjutkan,
“Oh iya, sebelum itu saya bisa lihat RPP yang kalian sudah buat? Karena setiap guru atau calon guru harus punya pegangan. Pegangan itu adalah RPP.”
Kami bertiga langsung terdiam.
Saya melihat Filzah.
Filzah melihat Fikrul.
Fikrul melihat saya.
Dalam hati kami bertiga mungkin mengatakan hal yang sama:
RPP?
Masalahnya, RPP itu tidak ada.
Kami memang tidak mempersiapkan RPP karena sejak awal tujuan kami datang bukan untuk mengajar seperti guru kelas pada umumnya. Fokus program kami adalah membantu administrasi sekolah, meningkatkan literasi dan numerasi, serta membantu adaptasi teknologi.
Namun, saya tidak mungkin mengatakan begitu saja kepada kepala sekolah.
Dengan spontan saya menjawab,
“Baik, Pak. Masih kami buat. Kira-kira sudah 50 persen. Nanti kalau sudah selesai akan saya bawa ke ruangan Bapak.”
Bapak Kepala Sekolah kemudian pergi.
Begitu beliau meninggalkan ruangan, Filzah langsung panik.
“Aduhhh, bagaimana ini? Kita kan tidak bikin RPP sama sekali!”
Fikrul ikut panik.
“Iya, Ris. Bagaimana ini?”
Saya mencoba menenangkan mereka.
“Sudah, nanti saya coba jelaskan baik-baik kepada Kepsek. Kita sampaikan bahwa tujuan kita di sini bukan mengajar menggunakan RPP seperti guru, tetapi menjalankan program kerja yang memang menjadi bagian dari Kampus Mengajar.”
Saat itu kami sadar bahwa menjadi bagian dari sebuah program tidak cukup hanya dengan mengetahui tugas sendiri.
Kami juga harus belajar berkomunikasi.
Belajar menjelaskan.
Belajar memahami cara orang lain melihat keberadaan kami.
Dan yang paling penting, belajar menyelesaikan masalah tanpa saling menyalahkan.
Bulan-bulan berikutnya perlahan mengubah banyak hal.
Bapak Kepala Sekolah mulai memahami Program Kampus Mengajar.
Beliau mulai melihat apa yang sebenarnya kami lakukan.
Suatu hari, ketika para guru sedang mengajar dan hanya tersisa kami bertiga bersama staf tata usaha, Kepala Sekolah memanggil kami ke ruangannya.
“Ade bertiga bisa ke ruangan saya dulu? Saya mau kasih tugas.”
Filzah menjawab,
“Baik, Pak.”
Di ruangan itu, beliau menunjukkan sebuah buku AD/ART sekolah tahun 2013.
“Saya bisa minta tolong ini diketik ulang dan dijilid supaya kelihatan lebih baru? Buku ini diketik sepuluh tahun yang lalu.”
Saya langsung menjawab,
“Baik, Pak. Biar saya saja yang kerjakan.”
Beliau tersenyum.
“Terima kasih ya. Terima kasih karena sudah mau membantu kami di sini.”
Keesokan harinya saya datang ke ruangan Kepala Sekolah membawa hasil pekerjaan tersebut.
Sekali lagi beliau mengucapkan terima kasih.
Dan ternyata, kata “terima kasih” itu semakin sering saya dengar dari seorang kepala sekolah yang awalnya bahkan belum memahami mengapa kami hadir di sekolahnya.
Beliau kemudian bercerita bahwa keberadaan kami sangat membantu, terutama ketika beberapa guru sedang mengikuti PPG.
“Kehadiran kalian sangat membantu kami. Ada beberapa guru yang sedang PPG, akhirnya kelas tidak ada yang mengawasi. Tetapi berkat kalian, anak-anak bisa tetap mendapatkan pelajaran di kelas. Terima kasih ya.”
Saat mendengar itu, saya mulai memahami sesuatu.
Ternyata keberadaan kami mulai memiliki arti.
Kami tidak datang untuk menggantikan guru.
Kami datang untuk membantu.
Dan terkadang, bantuan kecil yang kita lakukan dengan tulus bisa menjadi sesuatu yang besar bagi orang lain.
Dua minggu kemudian, saya sebagai ketua tim meminta izin kepada Kepala Sekolah untuk melaksanakan salah satu program kerja kami.
“Permisi, Pak. Izin masuk.”
“Oh iya, mari, silakan masuk, Ade.”
Saya menjelaskan rencana kami untuk melaksanakan kegiatan literasi bersama.
“Begini, Pak. Kami mempunyai program kerja yang ingin kami laksanakan. Saya mau minta izin untuk mengadakan kegiatan literasi bersama. Nanti semua siswa berkumpul di depan kelas masing-masing, ditemani wali kelas.”
Kepala Sekolah tersenyum.
“Oh, bagus itu. Silakan dilaksanakan. Saya dukung kegiatan kalian.”
Kemudian beliau bercerita bahwa kegiatan literasi bersama sebenarnya pernah mereka lakukan sebulan sekali sebelum pandemi.
Namun pandemi membuat kegiatan tersebut harus dihentikan sementara.
“Silakan jalankan program kalian.”
Saya mengucapkan terima kasih.
Hari itu kami pulang membawa sesuatu yang sederhana, tetapi penting:
kepercayaan.
H-7 Sebelum Penarikan
“Ade, bisa ke ruangan saya dulu?”
Saya mengetuk pintu.
“Permisi, Pak.”
“Oh iya, silakan masuk.”
Beliau kemudian bertanya,
“Jadi begini, Ade-ade penarikan tanggal berapa? Setelah pulang sekolah, kami para guru mau rapat untuk membahas soal ini.”
Saya menjelaskan bahwa berdasarkan informasi dari DPL, penarikan mahasiswa dapat dilakukan pada akhir bulan dan DPL kami berencana melakukan penarikan pada tanggal 2 Desember.
“Tanggal 2, ya? Oke. Sebentar saya sampaikan kepada guru-guru ketika rapat.”
Saya mengangguk.
“Baik, Pak. Terima kasih.”
Saat itu saya sadar bahwa waktu kami di sekolah hampir selesai.
Lima bulan yang awalnya terasa panjang ternyata berjalan begitu cepat.
H-1 Sebelum Penarikan
Ibu Siti, wali kelas 4, datang kepada kami.
“Ingat eh, besok kita ada makan bersama karena mau perpisahan dengan Ibu Risda, Ibu Filzah, dan Pak Fikrul. Besok semuanya bawa makanan yang enak.”
Salah seorang siswa kelas 5B langsung berseru,
“Yeeesss! Besok tidak belajar!”
Kami tertawa.
Tetapi beberapa saat kemudian suasana berubah menjadi haru.
Filzah berkata kepada mereka,
“Hari ini Ibu, Ibu Risda, dan Pak Fikrul terakhir mengajar di kelas kalian. Nanti kalau kami sudah tidak mengajar lagi, kalian dengar-dengaran sama wali kelas dan semua guru yang mengajar kalian.”
Seorang siswa bertanya,
“Yahhh, Ibu kenapa sudah tidak ajar kita lagi? Ibu Filzah dan Ibu Risda sudah tidak sayang kita lagi, kah?”
Saya menahan perasaan.
Filzah tersenyum.
Saya kemudian menjawab,
“Sayang, Dek. Kita bertiga sayang sama kalian semua. Tapi kita harus lanjut kuliah lagi supaya bisa lulus dan bekerja. Kalian juga harus belajar baik-baik. Harus bisa kuliah semuanya, ya.”
Mereka menjawab,
“Iyaaa, Ibu.”
Sesederhana itu percakapan kami.
Tetapi terkadang, kalimat sederhana justru menjadi kalimat yang paling sulit untuk dilupakan.
Jumat, 2 Desember 2022
Hari Penarikan.
Pagi itu, ketika tiba di sekolah, saya melihat sesuatu yang berbeda.
Para siswa sibuk menyiapkan makanan.
Meja-meja diletakkan di depan kelas masing-masing.
Ada yang membawa makanan dari rumah.
Ada yang membantu menghias meja.
Para wali kelas mendampingi mereka.
Ruang guru juga tidak kalah ramai.
Para guru sibuk menyiapkan hidangan untuk acara makan bersama.
Hari yang selama ini kami tahu akan datang akhirnya benar-benar tiba.
Hari perpisahan.
Para siswa diarahkan berdiri di depan kelas masing-masing.
DPL kami duduk bersama Kepala Sekolah dan para guru.
Acara dimulai.
Kepala Sekolah memberikan sambutan.
Beliau menyampaikan terima kasih karena Program Kampus Mengajar telah membawa mahasiswa untuk terjun langsung ke sekolah.
Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada kami bertiga karena telah membantu para guru selama berada di sekolah.
Kemudian beliau memberikan pesan yang sampai hari ini masih saya ingat:
“Kejar cita-cita kalian. Wujudkan mimpi-mimpi kalian dan terus belajar. Perjalanan kalian masih panjang. Semoga sukses.”
Setelah sambutan DPL dan penyampaian tujuan penarikan, tibalah saatnya kami memberikan cenderamata kepada pihak sekolah.
Kemudian kami menerima sesuatu yang tidak pernah kami duga.
Hadiah.
Kepala Sekolah berdiri dan menyerahkan sebuah paperbag berukuran sedang.
“Ade, ini hadiah dari kami selaku pihak sekolah. Ini juga sudah disetujui oleh semua guru. Jangan lihat dari ukuran atau harga barangnya. Ini sebagai bentuk terima kasih kami kepada kalian bertiga.”
Saya menerima paperbag itu.
“Baik, Pak. Terima kasih.”
Namun ternyata pemberian itu belum selesai.
Ibu Siti, wali kelas 4, berdiri dan memberikan sebuah kotak yang dibungkus kertas kado.
“Terima kasih sudah membantu menjaga kelas 4 selama saya mengikuti PPG kemarin. Jangan lihat harganya, ya.”
Saya tersenyum.
“Iya, Bu. Terima kasih.”
Kemudian Ibu Bless, wali kelas 5B, juga memberikan sebuah kotak hadiah.
Ia menyampaikan terima kasih karena selama lima bulan kami banyak membantu mengurus kelas 5B ketika beliau tidak dapat mengajar.
Saat itu saya mulai menyadari bahwa hadiah-hadiah tersebut bukanlah sekadar benda.
Di dalamnya ada ucapan terima kasih.
Ada penghargaan.
Ada kenangan.
Dan mungkin, ada sedikit bagian dari perjalanan kami selama lima bulan di sekolah itu.
Kemudian tiba-tiba terdengar suara musik.
Siswa kelas 3 maju ke depan.
Mereka membawakan lagu “Pagiku Cerahku.”
Lagu itu mereka nyanyikan khusus untuk kami.
Kami bertiga terdiam.
Tidak lama setelah lagu selesai, anak-anak berlari dan memeluk kami.
Dan seperti yang bisa ditebak—
kami menangis.
Siswa menangis.
Kami menangis.
Bahkan DPL kami pun ikut menangis.
Lima bulan sebelumnya kami adalah tiga orang asing yang bahkan belum tahu apakah kami bisa bekerja sama.
Hari itu kami berdiri sebagai sebuah tim yang harus berpisah.
Lucu memang.
Kami dipertemukan karena sebuah program.
Tetapi yang membuat kami sulit berpisah bukan lagi program itu.
Melainkan kenangan.
Setelah berpelukan, salah seorang guru memanggil kami dan mengajak kami bersama DPL masuk ke ruang guru untuk makan bersama.
Para siswa pun diarahkan untuk makan bersama.
Hari itu sekolah terasa berbeda.
Lebih ramai.
Lebih hangat.
Tetapi juga terasa sedikit kosong karena kami tahu, setelah hari itu, kami tidak lagi datang sebagai mahasiswa Kampus Mengajar.
Setelah acara selesai, kami berpamitan kepada semua guru.
Kami membawa pulang hadiah-hadiah yang diberikan sekolah.
Saya kemudian pergi ke kampus untuk membawa sesuatu ke laboratorium bahasa.
Di sana saya bertemu dengan Sir Rizal.
Ia melihat barang-barang yang saya bawa.
Lalu bertanya,
“Banyak sekali hadiahnya.”
Saya tersenyum dan menjawab,
“Iya, Sir. Ini dari siswa-siswi dan guru di sekolah tempat saya bertugas.”
Saya melihat kembali hadiah-hadiah itu.
Dulu, ketika pertama kali bertemu Filzah dan Fikrul, saya sempat bertanya dalam hati apakah kami bisa bekerja sama.
Saya bahkan sempat ingin mengundurkan diri.
Kami datang dari tempat yang berbeda.
Program studi kami berbeda.
Perguruan tinggi kami berbeda.
Cara berpikir kami mungkin juga berbeda.
Tetapi lima bulan kemudian, kami justru berdiri bersama dalam sebuah perpisahan yang membuat kami menangis.
Begitulah perjalanan.
Kadang kita terlalu sibuk memikirkan apakah orang-orang yang kita temui akan cocok dengan kita.
Padahal, bisa jadi, merekalah yang nantinya mengajarkan kita arti bekerja sama.
Kadang kita takut memasuki tempat yang baru.
Padahal, tempat baru itulah yang mungkin akan meninggalkan cerita paling lama.
Dan kadang kita mengira bahwa yang akan kita bawa pulang dari sebuah pengabdian adalah pengalaman.
Ternyata bukan hanya pengalaman.
Kita juga membawa pulang wajah-wajah yang pernah kita temui.
Suara anak-anak yang memanggil nama kita.
Ucapan terima kasih dari seorang guru.
Nasihat seorang kepala sekolah.
Persahabatan yang tidak pernah direncanakan.
Dan hadiah-hadiah kecil yang mungkin nilainya tidak seberapa.
Tetapi ketika suatu hari nanti kami membukanya kembali, mungkin yang muncul bukanlah pertanyaan tentang berapa harganya.
Melainkan satu pertanyaan sederhana:
“Masih ingatkah kamu dengan sekolah itu?”
Dan saya yakin, jawabannya akan selalu sama.
Masih.
Karena ada tempat-tempat yang kita datangi hanya untuk menjalankan tugas.
Tetapi tanpa kita sadari, tempat itu kemudian menjadi bagian dari perjalanan hidup kita.