Ada kebanggaan tersendiri yang saya rasakan ketika terpilih menjadi salah satu peserta Program Kampus Mengajar Angkatan Pertama dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Sorong. Program yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu membawa kami pada sebuah pengalaman yang sama sekali baru.
Hari itu, bersama mahasiswa peserta Kampus Mengajar lainnya, kami pergi ke Dinas Pendidikan Kota Sorong. Di sanalah untuk pertama kalinya kami bertemu dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang sama-sama dinyatakan lolos seleksi.
Ada rasa bangga.
Ada rasa senang.
Tetapi di balik itu semua, ada juga pertanyaan kecil dalam hati saya:
Apa yang akan saya temui nanti?
Keesokan harinya, kami berangkat menuju sekolah tempat kami ditugaskan.
Kepala sekolah dan para guru menyambut kedatangan kami dengan ramah. Setelah kami menjelaskan tujuan kedatangan dan program yang akan kami jalankan, kepala sekolah memberikan sambutan yang sampai hari ini masih saya ingat.
“Hari ini sekolah kami sangat terberkati dengan kedatangan adik-adik mahasiswa yang mau membantu sekolah ini. Saya sangat berterima kasih.”
Kalimat itu sederhana.
Namun entah mengapa, saya merasa sangat tersentuh.
Dalam diam, saya berkata kepada diri sendiri,
Saya harus menjadi generasi yang memberi perubahan untuk bangsa ini. Perubahan yang seutuhnya, bukan yang setengah-setengah.
Saat itu saya merasa bahwa keberadaan kami di sekolah bukan sekadar memenuhi sebuah program.
Ada harapan yang dititipkan kepada kami.
Ada anak-anak yang akan kami temui.
Ada guru yang mungkin membutuhkan bantuan.
Dan ada sesuatu yang harus kami lakukan dengan sungguh-sungguh.
Namun, perjalanan itu tidak langsung berjalan seperti yang saya bayangkan.
Tidak lama setelah program dimulai, salah seorang teman saya tiba-tiba mengatakan bahwa ia ingin mengundurkan diri.
Saya dan teman-teman lainnya berusaha membujuknya untuk tetap bertahan. Kami mencoba memberikan semangat dan meyakinkannya bahwa semua kesulitan pasti bisa dilewati.
Tetapi keputusan sudah bulat.
Ia tetap memilih untuk mengundurkan diri.
Saya merasa sedih.
Bukan karena kehilangan seorang teman semata, tetapi karena sejak awal saya berharap tim kami dapat bertahan bersama hingga program selesai.
Namun hidup mengajarkan bahwa tidak semua orang yang memulai perjalanan bersama kita akan sampai di garis akhir bersama-sama.
Hari-hari pun berlalu.
Kami tetap menjalankan tugas seperti biasa.
Sampai suatu hari, ketika saya berkeliling melihat kondisi sekolah, saya menemukan seorang siswa kelas dua sedang menangis. Ia berada dalam pelukan kakaknya.
Saya mendekatinya.
“Dek, kenapa menangis? Ada apa? Coba cerita sama Kakak.”
Tetapi anak itu tidak berani melihat saya. Ia justru memeluk kakaknya semakin erat.
Kemudian kakaknya berkata,
“Tidak apa-apa, Bu. Dia hanya takut sama gurunya yang sedang mengajar. Nada suaranya besar seperti orang sedang marah.”
Saya bingung harus berbuat apa.
Saya mencoba menenangkan anak itu.
“Dek, gurunya tidak marah. Memang suaranya besar.”
Tetapi ia tetap menangis.
Ia terus merengek ingin pulang.
Akhirnya saya menemaninya sampai pergantian mata pelajaran.
Ketika guru tersebut keluar dari kelas, saya berkata,
“Dek, gurunya sudah keluar. Ayo masuk kelas.”
Kakaknya kemudian mengantarnya kembali ke dalam kelas, sementara saya kembali ke meja piket.
Peristiwa itu mungkin terlihat sederhana.
Tetapi bagi saya, tangisan seorang anak kecil itu meninggalkan sesuatu.
Saya mulai memahami bahwa menjadi seorang pendidik bukan hanya tentang menguasai materi pelajaran.
Ada anak-anak dengan karakter yang berbeda.
Ada anak yang mudah beradaptasi.
Ada yang pemalu.
Ada yang berani.
Ada pula yang bahkan merasa takut berada di dalam kelas.
Dan semuanya membutuhkan cara yang berbeda untuk didekati.
Suatu hari, salah seorang teman saya meminta izin untuk pergi ke Surabaya.
Tim kami akhirnya tinggal empat orang.
Kami sempat bingung.
Dengan jumlah yang semakin sedikit, apa yang bisa kami lakukan?
Namun kami tidak ingin keadaan itu menghentikan langkah kami.
Kami kemudian meminta izin untuk melihat ruang perpustakaan sekolah.
Ketika pintunya dibuka, saya terdiam.
Ruang itu jauh dari bayangan saya tentang sebuah perpustakaan.
Dindingnya sudah banyak yang retak.
Rak-rak bukunya kotor.
Buku-buku tidak tertata dengan baik.
Di beberapa sudut terlihat sarang burung dan kotoran tikus.
Selama kurang lebih setahun, ruangan itu tidak digunakan.
Saya merasa prihatin.
Tetapi di tengah rasa prihatin itu, muncul sebuah pikiran:
Kalau bukan kami, siapa yang akan memulainya?
Saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk membersihkan perpustakaan tersebut.
Kami mulai dari hal-hal sederhana.
Membersihkan lantai.
Membersihkan rak.
Memindahkan buku-buku.
Menyusun kembali ruangan.
Keesokan harinya, seperti biasa, saya datang lebih awal sebelum teman-teman yang lain. Saya langsung melanjutkan pekerjaan membersihkan perpustakaan.
Karena rak-raknya harus dibersihkan terlebih dahulu, buku-buku sementara berserakan di lantai.
Seorang guru melihat keadaan tersebut.
“Kenapa dibongkar? Sebulan kau bersihkan tidak akan selesai.”
Saya sebenarnya merasa kesal.
Niat saya sederhana.
Saya ingin siswa-siswi memiliki tempat yang nyaman untuk membaca.
Namun saya mencoba menahan perasaan.
Saya menjawab,
“Mohon maaf, Pak. Menurut saya, pembersihan ini mungkin membutuhkan waktu sekitar empat hari. Ini kami bersihkan agar adik-adik di sini merasa nyaman.”
Guru itu kemudian menjawab,
“Baiklah kalau begitu, lanjutkan.”
Saya dan teman saya, Rina, kembali melanjutkan pekerjaan.
Satu rak demi satu rak.
Satu buku demi satu buku.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada penghargaan.
Tidak ada yang secara khusus memuji pekerjaan kami.
Tetapi kami tetap melakukannya.
Sebab terkadang, pekerjaan yang paling berarti justru dimulai dari sesuatu yang tidak terlihat penting bagi orang lain.
Setelah perpustakaan selesai dibersihkan, kami mulai menjalankan program kami yang bernama Literary Day.
Kami meminta izin kepada kepala sekolah dan para wali kelas agar siswa-siswi yang belum mampu membaca, terutama mereka yang jarang belajar di rumah, dapat mengikuti kegiatan tersebut.
Hari pertama menjalankan kegiatan itu tidak mudah.
Saya bahkan sempat merasa frustrasi.
Anak-anak sangat cerewet.
Mereka saling mengganggu.
Sulit berkonsentrasi.
Bahkan ada yang tidak hafal nama aslinya sendiri.
Saya mulai bertanya dalam hati,
Bagaimana saya harus menghadapi mereka?
Saya kemudian mencoba mencari jawaban dari orang-orang yang lebih berpengalaman.
Saya bertanya kepada beberapa guru sekolah dasar yang saya kenal. Saya meminta mereka menceritakan pengalaman ketika menghadapi anak-anak dengan karakter seperti itu.
Saya mendengarkan.
Saya belajar.
Saya mencoba memahami bahwa mungkin masalahnya bukan pada anak-anak itu.
Mungkin cara saya yang belum tepat.
Pada hari berikutnya, saya mencoba beberapa metode yang sebelumnya pernah saya praktikkan kepada anak-anak di sekitar rumah.
Sedikit demi sedikit, keadaan mulai berubah.
Anak-anak mulai mau mendengarkan ketika saya berbicara.
Tidak langsung sempurna.
Tidak langsung tertib.
Tetapi ada perubahan kecil.
Dan bagi saya, perubahan kecil itu terasa sangat berarti.
Setelah keluar kelas, beberapa siswa bahkan meminta nomor telepon saya.
Saya memberikan perhatian kepada mereka, meskipun pada akhirnya tidak ada satu pun yang menelepon.
Saya tertawa sendiri mengingatnya.
Tetapi bagi saya, permintaan nomor telepon itu cukup menjadi tanda bahwa mereka mulai merasa nyaman.
Sebulan telah berlalu.
Semakin lama berada di sekolah, semakin saya menyadari bahwa ternyata masih banyak kekurangan yang saya miliki.
Saya kemudian mulai mengamati cara beberapa guru mengajar.
Saya memperhatikan bagaimana mereka membuka pelajaran, bagaimana mereka menghadapi siswa, bagaimana mereka menjelaskan materi, dan bagaimana mereka menutup pembelajaran.
Suatu hari saya bertanya kepada salah seorang guru tentang tahapan pembelajaran yang biasa ia gunakan.
Ia kemudian bercerita kepada saya.
Katanya, dahulu ia juga seperti saya.
Masih bingung.
Masih banyak melakukan kesalahan.
Namun ia sering belajar dari guru-guru senior yang lebih dulu mengajar.
Hari demi hari ia belajar.
Tahun demi tahun ia mendapatkan pengalaman.
Dan sekarang, ia justru menjadi salah satu guru senior di sekolah tersebut.
Saya terdiam mendengar ceritanya.
Ada sesuatu yang saya pahami hari itu.
Bahwa pengalaman tidak datang sekaligus.
Ia tumbuh dari kesalahan.
Dari kegagalan.
Dari kebingungan.
Dari keberanian untuk mencoba lagi.
Dari kesediaan untuk belajar kepada orang lain.
Saya mulai memahami bahwa apa yang saya alami selama menjadi mahasiswa Kampus Mengajar bukanlah sekadar tugas.
Ini adalah proses.
Proses untuk mengenal dunia pendidikan dari sisi yang berbeda.
Proses untuk memahami anak-anak.
Proses untuk belajar dari guru.
Dan yang paling penting, proses untuk mengenal diri saya sendiri.
Hari ini, ketika mengingat kembali perjalanan itu, saya merasa bangga pernah menjadi bagian dari Program Kampus Mengajar Angkatan Pertama.
Saya datang sebagai mahasiswa yang merasa sudah cukup memahami dunia pendidikan.
Tetapi sekolah mengajarkan saya bahwa masih banyak hal yang belum saya ketahui.
Saya datang dengan membawa ilmu.
Namun saya pulang membawa pengalaman.
Saya datang dengan idealisme.
Namun saya belajar bahwa idealisme membutuhkan kesabaran.
Saya datang untuk mengajar.
Namun ternyata saya justru lebih banyak belajar.
Saya belajar dari anak-anak yang tetap datang ke sekolah dengan segala keterbatasannya.
Saya belajar dari guru-guru yang telah bertahun-tahun mengabdikan diri.
Saya belajar dari teman-teman yang bertahan bersama.
Dan saya belajar dari berbagai masalah yang awalnya terasa berat, tetapi akhirnya justru menjadi bagian paling berharga dari perjalanan ini.
Kini saya percaya, pengalaman adalah salah satu guru terbaik dalam kehidupan.
Karena itu, saya ingin terus mengingat satu hal:
Belajarlah dari setiap proses yang kita alami.
Sebab pengalaman hidup jauh lebih berharga daripada nilai A+ yang diperoleh dari menyontek.
Nilai mungkin hanya tertulis di atas kertas.
Tetapi pengalaman akan tinggal jauh lebih lama—di dalam ingatan, di dalam karakter, dan di dalam cara kita memandang kehidupan.